TENJOLAYA – Semangat perubahan kini tengah menderu di kaki Gunung Salak. Menindaklanjuti Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang dicetuskan oleh Presiden Prabowo pada 2 Februari 2026, Kecamatan Tenjolaya kini memantapkan langkah menuju wilayah yang lebih hijau dan tertata melalui inisiatif lokal bertajuk “Menuju Tenjolaya ASRI”.

Langkah besar ini berawal dari kesamaan visi antara Ketua Kwartir Ranting Tenjolaya, Dasuki, S.Ag., dengan Karang Taruna Kecamatan Tenjolaya. Keduanya sepakat bahwa pembangunan wilayah harus dimulai dari akar rumput, yakni lembaga pendidikan dan organisasi kepemudaan. Sinergi ini melahirkan Bank Sampah Tenjolaya, sebuah lembaga yang kini bertransformasi menjadi Bank Sampah Induk dengan sistem pengelolaan sampah terintegrasi, mulai dari lingkungan Gugus Depan hingga ke tingkat desa.

Angga Firman Firdaus, Direktur Bank Sampah Tenjolaya, kini tengah fokus menyempurnakan pondasi sistem tersebut. Targetnya ambisius namun realistis: mengubah pola pikir masyarakat agar memperlakukan pengelolaan sampah layaknya sistem perbankan keuangan—terukur, disiplin, dan memberikan manfaat ekonomi.

Kolaborasi Multi-Sektor di Meja Bundar

Gerakan ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah setempat. Kunjungan Camat Tenjolaya yang dilanjutkan dengan rapat koordinasi multi-sektor di Aula Kantor Kecamatan Tenjolaya menjadi momentum krusial. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan untuk mengaktifkan kembali budaya gotong royong di tingkat RT dan RW melalui rencana aksi yang terstruktur.

Salah satu poin terobosan adalah pembentukan Duta Lingkungan Hidup. Terdiri dari perwakilan 61 sekolah dan lembaga pendidikan di Tenjolaya, para pelajar ini disiapkan menjadi Agent of Change yang akan membawa virus positif kesadaran lingkungan ke rumah dan lingkungan masing-masing.

Ekonomi Sirkular sebagai Solusi

Menjawab berbagai persoalan yang disampaikan oleh Ketua Paguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Tenjolaya dan para pendamping Lingkungan Hidup, Karang Taruna memaparkan sebuah konsep solutif: Model Ekonomi Sirkular Berbasis Edukasi dan Integrasi.

Model ini tidak hanya bicara soal membersihkan lingkungan, tetapi bagaimana sampah dikelola kembali menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Melalui integrasi antara sekolah (SD, SMP, SMA), Kampung Ramah Lingkungan (KRL), dan pihak swasta, Tenjolaya berupaya memutus mata rantai limbah sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi warga.

Kini, Tenjolaya bukan sekadar nama kecamatan, melainkan sebuah laboratorium sosial di mana keamanan, kesehatan, kebersihan, dan keindahan diperjuangkan secara kolektif. Menuju Tenjolaya ASRI bukan lagi sekadar slogan, melainkan kerja nyata untuk masa depan generasi mendatang.

Instruksi Camat dan Semangat “GASPOL”

Momentum ini semakin diperkuat melalui Rapat Koordinasi (Rakor) multi-sektor di Aula Kantor Kecamatan Tenjolaya yang diinstruksikan langsung oleh Camat Tenjolaya Dr. Apid Junaedi, SSTP, M.Si. Rakor tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan wujud keberanian aksi nyata pemerintah kecamatan dalam merespons isu lingkungan.

Dalam pertemuan tersebut, tercetus istilah “GASPOL” Gerakan Antisipasi Sampah Pilih Olah Lanjutan. Istilah ini menjadi simbol percepatan rencana aksi dalam sistem Bank Sampah Tenjolaya. Dengan semangat GASPOL, Camat menekankan pentingnya mengaktifkan kembali budaya gotong royong yang terstruktur dari tingkat kecamatan hingga ke unit terkecil di RT dan RW.